Sistem pembinaan pemain muda Barcelona itu disebut-sebut sebagai yang terbaik di dunia, setidaknya untuk dekade ini.
Dengan kesuksesan Barcelona melebarkan jaraknya dengan juara Primera Liga musim lalu, Real Madrid, serta gemilangnya Lionel Messi berkat lesakan 91 golnya hingga penghujung Desember, kiranya ini adalah momen yang tepat untuk membahas asal-muasal talenta dunia yang dimiliki Blaugrana: Akademi La Masia.
Barcelona mungkin tidak akan sesukses ini jika bukan karena perencanaan jangka panjang di bawah ratusan pelatih, guru, mentor, juru masak, dokter, psikolog dan, terlepas dari itu semua, bibit-bibit muda dengan hati-hati dipilih di La Masia.
Dikisahkan, pembentukan La Masia itu sendiri berasal dari konsep presiden Lluis Nunez yang mengacu saran Johan Cruyff pada 1979, yang akhirnya sukses menghasilkan pemain-pemain legendaris seperti Pep Guardiola, Carles Puyol, Xavi Hernandez dan tentu saja Lionel Messi--nama terakhir diboyong saat ia berusia 13 tahun.
Memasuki penghujung 2012 yang akan berganti ke tahun 2013, akademi Barcelona mungkin telah menahbiskan diri sebagai panutan bagi banyak klub, setidaknya untuk meniru pola pendidikan yang mereka terapkan.
Tidak seperti badan terdidik lain seperti FBI yang terkenal ketat, La Masia bisa dibilang terbuka mengenai pengembangan bibitnya, hal itu tidak menjadi masalah karena tidak ada rahasia selain sistem seleksi yang terperinci, pengorbanan, fokus pada keberhasilan akademis di siang hari, dan bermain bola mengikuti tradisi filosofi pass and move setiap malamnya.
Direktur La Masia saat ini Guillermo Amor, yang juga lulusan serta mantan bintang Barcelona, pernah menjelaskan seperti ini: “Saya tidak merasa ini adalah rahasia. Hal ini lebih mengenai kepercayaan akan apa yang Anda lakukan dalam pekerjaan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun, dan juga bertaruh pada anak-anak muda di akademi, karena pembuktian hasil akhir ada di sana [skuat inti Barca],” ujarnya seperti dilansir ESPN.
Lebih jauh, Amor menambahkan: “Banyak pemain-pemain di tim utama asalnya dari sini, dari rumah kami. Kami melihat bahwa anak-anak di dalam akademi ini memiliki begitu banyak kualitas dan potensi untuk suatu hari nanti mencapai tim utama.”
Dari 25 nama di inti tim Barcelona untuk saat ini, setidaknya ada 16 pemain yang sukses mencapai level sepakbola profesional, yang tentunya sebagian besar dari mereka telah menyelesaikan penggemblengan penting di La Masia.
Tentu, pemain-pemain seperti Cesc Fabregas, Gerard Pique ataupun Jordi Alba harus membuktikan diri mereka terlebih dahulu di klub lain sebelum dirasa layak kembali ke Camp Nou. Namun, konsep yang diperoleh di akademi La Masia pastinya membantu mereka untuk jadi sosok idaman seperti sekarang.
Selain itu, pada ajang pemilihan Ballon d’Or 2010 lalu, kesuksesan besar diraih oleh lulusan La Masia, dengan tiga pemain andalan tim inti Barcelona, yakni Lionel Messi, Andres Iniesta, dan Xavi Hernandez menjadi tiga pesepakbola top di planet bumi. “Bagi kami, itu adalah momen yang sangat spesial,” ujar Amor mengenai kesuksesan tersebut.
“Fakta bahwa seseorang yang lulus dari sistem kami, mencapai tim utama, meraih begitu banyak dan memenangi gelar individu terbesar di dunia sepakbola, tentu tidak ada duanya. Namun, ketika memiliki tiga perwakilan? Luar biasa. Mereka semua pantas meraihnya. Messi itu jenius. Dialah yang terbaik dan pantas meraihnya, tapi Xavi dan juga Iniesta bisa memahami itu.
“Hal itu [penghargaan Ballon d’Or 2010] juga membantu kami, karena anak-anak muda terutama di akademi kami bisa melihat kesuksesan yang telah diraih tim utama, yang tentu diraih berkat kerja keras.”

Dengan kesuksesan Barcelona melebarkan jaraknya dengan juara Primera Liga musim lalu, Real Madrid, serta gemilangnya Lionel Messi berkat lesakan 91 golnya hingga penghujung Desember, kiranya ini adalah momen yang tepat untuk membahas asal-muasal talenta dunia yang dimiliki Blaugrana: Akademi La Masia.
Barcelona mungkin tidak akan sesukses ini jika bukan karena perencanaan jangka panjang di bawah ratusan pelatih, guru, mentor, juru masak, dokter, psikolog dan, terlepas dari itu semua, bibit-bibit muda dengan hati-hati dipilih di La Masia.
Dikisahkan, pembentukan La Masia itu sendiri berasal dari konsep presiden Lluis Nunez yang mengacu saran Johan Cruyff pada 1979, yang akhirnya sukses menghasilkan pemain-pemain legendaris seperti Pep Guardiola, Carles Puyol, Xavi Hernandez dan tentu saja Lionel Messi--nama terakhir diboyong saat ia berusia 13 tahun.
Memasuki penghujung 2012 yang akan berganti ke tahun 2013, akademi Barcelona mungkin telah menahbiskan diri sebagai panutan bagi banyak klub, setidaknya untuk meniru pola pendidikan yang mereka terapkan.
Tidak seperti badan terdidik lain seperti FBI yang terkenal ketat, La Masia bisa dibilang terbuka mengenai pengembangan bibitnya, hal itu tidak menjadi masalah karena tidak ada rahasia selain sistem seleksi yang terperinci, pengorbanan, fokus pada keberhasilan akademis di siang hari, dan bermain bola mengikuti tradisi filosofi pass and move setiap malamnya.
Direktur La Masia saat ini Guillermo Amor, yang juga lulusan serta mantan bintang Barcelona, pernah menjelaskan seperti ini: “Saya tidak merasa ini adalah rahasia. Hal ini lebih mengenai kepercayaan akan apa yang Anda lakukan dalam pekerjaan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun, dan juga bertaruh pada anak-anak muda di akademi, karena pembuktian hasil akhir ada di sana [skuat inti Barca],” ujarnya seperti dilansir ESPN.
Lebih jauh, Amor menambahkan: “Banyak pemain-pemain di tim utama asalnya dari sini, dari rumah kami. Kami melihat bahwa anak-anak di dalam akademi ini memiliki begitu banyak kualitas dan potensi untuk suatu hari nanti mencapai tim utama.”
Dari 25 nama di inti tim Barcelona untuk saat ini, setidaknya ada 16 pemain yang sukses mencapai level sepakbola profesional, yang tentunya sebagian besar dari mereka telah menyelesaikan penggemblengan penting di La Masia.
Tentu, pemain-pemain seperti Cesc Fabregas, Gerard Pique ataupun Jordi Alba harus membuktikan diri mereka terlebih dahulu di klub lain sebelum dirasa layak kembali ke Camp Nou. Namun, konsep yang diperoleh di akademi La Masia pastinya membantu mereka untuk jadi sosok idaman seperti sekarang.
Selain itu, pada ajang pemilihan Ballon d’Or 2010 lalu, kesuksesan besar diraih oleh lulusan La Masia, dengan tiga pemain andalan tim inti Barcelona, yakni Lionel Messi, Andres Iniesta, dan Xavi Hernandez menjadi tiga pesepakbola top di planet bumi. “Bagi kami, itu adalah momen yang sangat spesial,” ujar Amor mengenai kesuksesan tersebut.
“Fakta bahwa seseorang yang lulus dari sistem kami, mencapai tim utama, meraih begitu banyak dan memenangi gelar individu terbesar di dunia sepakbola, tentu tidak ada duanya. Namun, ketika memiliki tiga perwakilan? Luar biasa. Mereka semua pantas meraihnya. Messi itu jenius. Dialah yang terbaik dan pantas meraihnya, tapi Xavi dan juga Iniesta bisa memahami itu.
“Hal itu [penghargaan Ballon d’Or 2010] juga membantu kami, karena anak-anak muda terutama di akademi kami bisa melihat kesuksesan yang telah diraih tim utama, yang tentu diraih berkat kerja keras.”




